Friday, February 23, 2018

Emas Murni - Keep Fight

Hello readers....
Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang hal yang dekat dengan keseharian kita dan saya yakin gak hanya saya yang mengalami hal ini. Setiap tempat kerja pasti selalu ada saja orang-orang yang membuat kita merasa tak kerasan. 

Cukup banyak tipe orang yang tak jarang membuat hati kesal, seperti :
1   .  Merasa dirinya seakan pemimpin padahal ada distrata yang sama dengan kita
2   . Tak mau diajak kerja sama, namun selalu menjadi patner yang baik ketika dilihat atasan
3   .  Menutup telinga ketika mendapat teguran dari teman kerja
4   .  Menganggap dirinya selalu benar dalam mengerjakan sesuatu
5   .  Hanya mengerjakan bagiannya dan tak mau membantu teman yang lain
6   .  Memanfaatkan anak baru (junior)

Itu hanya beberapa dari sekian banyak, kalau kita pikir baik-baik mungkin secara tak sadar kita termasuk dalam salah satu tipe tadi karena orang cenderung melakukan kesalahan namun secara pribadi ia menganggap bahwa sikapnya adalah benar. Awalnya saya selalu kesal menghadapi orang-orang seperti itu sehingga mengharuskan saya introspeksi diri, mungkin memang ada tindakan saya yang salah atau cara pandang saya yang salah. 

Saya pribadi pernah mengalami hal yang tak mengenakan dalam hal pekerjaan. Beberapa kali saya dipertemukan dengan patner kerja yang baik bahkan kami dapat berbagi cerita juga tawa, hubungan kami cukup dekat namun karena sedikit masalah terjadi dalam pekerjaan membuat semua berubah. Masalah yang ada bukan antara kami namun dalam hal pekerjaan namun itu membuat mereka tiba-tiba menjaga jarak dengan saya. Karena merasa tak ada masalah serius maka saya bersikap seperti biasanya, namun yang saya dapatkan adalah diam. Yang paling terlihat jelas ketika mereka sedang duduk pada satu tempat kemudian saya datang lalu mengambil tempat duduk tak jauh, tiba-tiba secara perlahan mereka bergeser menjauh. Awalnya tidak ada pikiran negatif yang muncul dalam benak saya. Hari-hari berikutnya ketika saya yang lebih dulu duduk di tempat itu maka mereka lebih memilih untuk berdiri agak jauh daripada duduk bersebelahan dengan saya. Kesal pasti, tapi yang paling terasa sedih. Tepat saat itu saya berbicara pada diri sendiri, mereka menjaga jarak seakan saya mempunyai penyakit menular yang mematikan. Ditambah lagi mereka tak ingin berbicara dengan saya, meski mereka butuh bantuan dan hanya saya yang berada dekat situ mereka tetap bergeming. Tak ada orang yang menjadi tempat cerita karena saya berpikir mungkin saya melakukan kesalahan pada mereka. Hari, minggu, hingga bulan terlewati begitu saja tanpa jawaban yang pasti. Jujur saat itu rasa kesal, marah, sedih bercampur jadi satu, ingin rasanya keluar dari tempat kerja itu. Merasa cukup lelah saya berhenti berpikir lalu memutuskan untuk bertanya langsung kepada mereka. Tak peduli respon mereka nantinya, saya mendekat dan bertanya “Apa saya melakukan kesalahan? Kalau ada, apa kesalahan saya?” Di luar dugaaan mereka hanya diam, saya ulangi pertanyaan saya kedua kalinya. Jawaban yang keluar dari mulut mereka adalah “Gak ada”. Lalu kenapa selama ini mereka terkesan menjaga jarak. Saya katakan lagi “Bilang saja kalau saya salah supaya saya tahu dan bisa perbaiki”. Lagi-lagi “Gak ada” jadi pilihan jawaban mereka. Saya katakan lagi “Lalu kenapa selama ini sikap kalian berubah terhadap saya? Kalau ada sikap saya yang salah atau saya memang melakukan kesalahan pada kalian, saya minta maaf”. Hingga kalimat terakhir mereka tetap tak memberikan jawaban apapun. Hanya diam seribu bahasa yang mereka lakukan, bahkan mereka tak mau menatap mata saya dari awal percakapan singkat itu. Setelah itu  saya pergi tanpa adanya jawaban. 
Hari-hari saya mulai berubah, saya lebih memilih banyak diam, tak banyak berinteraksi dengan mereka karena mungkin saya hanya buat mereka semakin menjauh. Kami bicara seperlunya tak ada lagi cerita, apalagi tawa bersama. Secara tak sadar sebuah dinding memisahkan kami meski kami berada di tempat yang sama. Beberapa kali mungkin saya hanya bisa menangisi akhir dari hubungan itu. Kenyamanan mulai hilang dalam tempat kerja, hati yang mulai lelah dengan situasi yang harus setiap hari ditemui, hingga akhirnya saya belajar hal baru. Mungkin ini saatnya saya tak perlu peduli tentang omongan juga sikap orang-orang yang tak punya hak dalam hidup saya. Fokus saya cukup bekerja dengan sebaik-baiknya dan mungkin bisa dikatakan jahat kalau saya menganggap mereka tak ada. Maafkan saya karena hanya itu jalan yang bisa membuat saya tetap bertahan di tempat kerja. Dan terima kasih buat kalian, karena sikap kalian saya bisa mengambil contoh agar saya harus selalu mengoreksi diri sendiri dan tak marah pada orang lain tanpa alasan yang tak pasti. komunikasi selalu menjadi hal penting dalam pekerjaan bahkan dalam setiap hubungan yang kita punya.

pictbycinthyazhang:replika emas yang dibakar
Dari emas murni saya belajar. Untuk menjadi emas murni, pertama emas akan dibakar pada suhu panas yang amat tinggi hingga mencair. Tak hanya sekali dua kali hal itu dilakukan, namun berkali-kali sehingga tak ada sedikitpun debu atau kotoran. Emas akan ditempa berkali-kali tanpa ia tahu akan jadi apa ia nantinya. Mungkin sama dengan kita sebagai manusia yang memang sering kali kita tak mengerti banyak hal disekitar kita. Rasa sakit, marah, kesal, sedih itu adalah api yang akan memurnikan kita suatu hari nanti, entah kapan waktunya kita bisa disebut sebagai emas murni dan logam mulia namun yang saat ini bisa saya lakukan yaitu bertahan dalam segala kondisi dan berserah sepenuhnya kepada Dia yang tahu segala masa lalu serta masa depan saya. Dan berpegang pada sebuah tulisan ‘Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamannya (Amsal 27:17)’. Jelas sudah kita bisa lebih dewasa melalui orang-orang yang dipertemukan dengan kita.

Meskipun kita seakan sudah lelah berusaha dan bertahan, cobalah tetap bertahan sedikit lagi mungkin saja hanya beberapa langkah di depan Tuhan sudah menyediakan hadiah terbaik-Nya untuk kita yang mau tetap bertahan dan tetap memberi respon yang baik dalam setiap situasi menghimpit juga kepada orang-orang yang membuat hati kita sakit. Tujuan saya menulis di sini hanya sekedar berbagi apa yang pernah saya alami dan pelajaran yang bisa dipetik.  Gak mudah tetap menjadi orang baik disituasi yang tak baik, tapi kita sama-sama belajar untuk hal itu. Bukan untuk menggurui, saya pun masih belajar. Semoga bermanfaat bagi kalian pembaca, terima kasih atas waktu kalian yang berharga. Keep fight. God bless you……


Ig: thyazhang

Thursday, March 6, 2014

Belajar gak melangkah mundur

Suatu hari Plato meminta muridnya untuk memetik bunga yang paling cantik disebuah kebun tapi dengan catatan ia tidak boleh mundur walaupun selangkah.

Pergilah sang murid, setibanya dikebun ia melihat sangat banyak bunga yang cantik, ketika ia memegang satu bunga untuk dipetik ia berpikir bahwa akan ada bunga yang lebih cantik didepan, dan ia memutuskan untuk meninggalkan bunga yang ada didepan nya. Ia terus berjalan dan menelusuri jalan dengan hamparan bunga cantik tapi ia hanya sekedar melihat karena dipikirannya pasti akan ada bunga yang lebih cantik didepan, hingga ia tiba diujung kebun dan tidak setangkai bunga pun ada disitu. Ia merasa kecewa, kemudian pulang dengan tangan hampa...

'guru, aku pulang dengan tangan kosong' ujarnya kepada Plato. 'kenapa? Apa yg terjadi?' tanya gurunya
'aku terlalu terlena melihat bunga-bunga yang cantik, pikiran ku sangat ingin mendapat yang sempurna, namun ternyata malah sia2 dan aku tidak mendapatkan apa-apa'

Plato memberikan kesempatan kedua, 'sekarang pergilah kehutan, tebang satu pohon yang kamu anggap paling kokoh, dengan catatan yang sama tidak boleh mundur selangkahpun'

Pergilah muridnya segera, dan tak lama ia kembali dengan mmbawa sebatang pohon dipundaknya.
'bagaimana sekarang? Apa itu yg paling kokoh dihutan?'
jawabnya, 'tidak guru, masih banyak pohon yang lain tapi untuk ku ini adalah yang paling kokoh, aku tidak mau kecewa untuk yang kedua kali. pulang dengan tangan hampa'


kadang sadar tidak sadar, kita sering ingin yang paling sempurna tapi ternyata? we've got nothing.,,,.
PIKIRAN menawarkan kesempurnaan untuk kita miliki, tapi realitanya DUNIA menawarkan kita untuk menjadikan sesuatu yang tidak sempurna menjadi SEMPURNA untuk diri kita sendiri

want to see smile in the end of time

Gak tau kenapa belakangan ini ada yang aneh sama diri sendiri. Bukan masalah sensitif atau negatif thingking tapi aku ngerasa gak bisa berdiri di satu tempat dengan tegas. Kosong yang terasa.
Hummm liat orang-orang sekitar buat aku ngerasa canggung buat gabung. Takut ganggu, May be. . . 
Entah apa yang sebenernya aku jalanin, bener-bener buat aku bingung. Kadang aku ngerasa tertekan, mau bebas, mau teriak, mau menjerit lewat tangis, tapi buat apa? It's in vain!!!
Takut buat bicara, takut dalam bertindak, takut dalam ambil keputusan. None support.
Harus tanya siapa? Mungkin jawabannya yah tanya diri sendiri, kenapa semua bisa kayak gini. Share sama orang pun percuma, gak akan ada yang ngerti, karena mereka bukan di posisi aku. Sendiri yang aku rasain, seneng sih waktu liat temen-temen kumpul sekedar share or joke tapi terkadang muncul pikiran jenuh dan yang pada akhirnya buat aku berfikir buat siap siaga ketika mereka, temen-temen yang aku punya pergi ninggalin aku buat temen yang baru. Gila, bisa gila kalo aku berfikir kayak gitu, tapi itu kenyataan. Aku bukan seseorang yang dilingkupi dengan segala sesuatu yang berlebih, aku cuma seseorang yang penuh kekurangan. Makanya aku gak mau menuntut pada siapa pun buat suka, peduli, dan sayang sama aku.
Bodohnya aku, selalu aja mikir yang ternyata gak penting. Kehilangan temen-temen? Yah pastilah, cepet atau lambat yah pasti akan sampai waktunya buat bilang kata perpisahan. Tapi itu yang kadang buat aku takut., ketika aku udah mulai tergantung sama seseorang, aku takut kehilangan dia bahkan aku ngerasa iri kalo ada yang dideket dia. Yah balik lagi rasa takut kehilangan yang luar biasa besar. Tapi buat hal kecil aku malah gak bersyukur sama sang Pencipta. Aku punya keluarga yang sayang sama aku, meski terkadang sikap mereka seakan menekan aku tapi sesungguhnya itu adalah hal terbaik buat aku (menurut mereka) Yah emang gak ada salah kok suma aku nya aja yang terlalu berlebih menanggapi sikap mereka. Temen-temen yang sebenernya peduli bahkan sangat sayang sama aku, gak pernah aku bersyukur kepada Nya untuk kehadiran mereka semua. Justru aku fokus sama orang-orang yang gak suka sama aku. Heiii ini dunia, dunia bukan kejam. Dunia adalah netral gak pernah memihak, ada plus ada minus itu yang disediakan dunia dan aku lebih melihat ke minus bukan plus, it's so success make me down n fallen face down. Tapi saat ini aku mau bersyukur buat orang tua, keluarga besar, temen-temen, dan orang-orang yang pernah ada dalam hidup aku. Mereka adalah orang-orang special yang sangat berpengaruh dalam waktu aku ketika masih ada di dunia fana ini. Terima kasih buat semua cerita, waktu, pengalaman, semua yang udah kalian kasih buat aku. Terima kasih buat saran, teguran, perhatian, sayang nya yang luar biasa.

Mungkin aku mau coba buat putar sedikit rotasi waktuku, meski aku tahu gak akan pernah bisa terulang yang udah lewat tapi setidaknya aku gak mau menyesal untuk yang kesekian kalinya. Sekarang yang aku mau, berubah, kasih hidup aku buat Sang Pencipta terserah apa yang mau Ia kerjakan dalam hidup aku. 
Aku gak suka orang yang gak konsisten dan munafik, tapi saat ini jujur aku akui mungkin aku gak konsisten dan munafik tapi aku mau suatu saat ketika aku udah gak berdiri di tempat ini, semua orang bisa tersenyum karena aku dan ketika waktu ku habis aku mau mereka yang mengenal aku tersenyum ketika mendengar namaku disebut.

Once more

Buat kesekian kali nya aku bisa belajar dalam perih....
awal yag indah tapi harus diakhiri perih, yah itu udah jadi hukum alam. Sama hal nya dengan statement "ada pertemuan pasti ada perpisahan" "Ada awal pasti ada akhir"
Mungkin itu yang sekarang aku rasa, sakit harus ngelepas orang-orang sekitar yang aku sayang. Kenal mereka bukan dalam satu kebetulan, yakin semua memang  udah jadi rencana Sang pencipta, tapi untuk berpisahnya aku agak keberatan.

Dari mereka:
aku belajar kejamnya hidup
aku belajar tersenyum dalam tangis
aku belajar jadi seseorang yang tegar
aku belajar gak mudah putus asa
aku belajar menahan air mata
bahkan dari mereka aku belajar tentang benci....
benci dengan waktu yang harus maksa aku buat lepasin mereka semua...
karena mereka lah orang-orang yang selalu ada meski kadang tak terlihat.
support and care mereka yang buat aku bisa bertahan menghadapi semua dalam waktu....

gak cuma belajar bertahan hidup disemak-semak dunia, tapi mereka juga banyak ajar aku tentang hal yang gak baik. rokok, alkohol, musik, dunia malam.... semua aku alami..
intinya mereka bukan berasal dari tempat yang suci, mereka adalah orang-orang yang hidup dalam dunia fana, mungkin bagi orang lain yang melihat, mereka di judge rusak tapi sedikitpun mereka gak pernah buat aku rusak.
itu salah satu alasan kenapa aku semakin sayang dan gak mau lepas mereka.

Mawar Putih dari Nenek

Setiap orang pasti ingin mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik. Rasa tak pernah puas selalu mengikuti jiwa seseorang. Satu hal yang sering kali terlupa, kebanyakan dari kita selalu melihat keatas, melihat mereka yang memiliki materi lebih banyak dari kita hingga buat rasa haus akan materi semakin kuat. Di sisi lain, pernahkah kita coba melihat mereka yang ada di bawah. Mereka yang memiliki materi jauh lebih sedikit bahkan yang juga bisa dikatakan tak memiliki apa-apa? Lihat mereka, coba rasakan apa yang mereka rasakan dengan hati supaya kita mengerti arti hidup yang sesungguhnya dan bersyukur dalam setiap keadaan. Dan yang menggelitik, sering kali muncul pikiran kalau kita gak punya banyak materi lalu gimana mau bantu orang lain yang kesusahan? Kalau gaji aja pas-pasan, gimana mau memberi? Kalau lagi galau gara-gara masalah hidup, gimana mau hibur orang lain?
HEI!!!!!! Wake Up Guys!!!!!!
Bukan bersikap munafik tapi saya sendiri pernah punya pikiran seperti itu, dan mulai tersadar ketika banyak hal yang saya sendiri alami. Satu kali saya menyeberang jalan yang padat dengan kendaraan, baru saja tiba diseberang, saya dikejutkan dengan kehadiran seorang nenek yang menatap kearah saya. Tangan kanannya memegang seikat bunga mawar putih. Ketika otak yang bekerja pasti saya akan meninggalkannya dengan alasan tidak mengenalnya dan untuk apa toh gak ada untung, tapi hari itu hati yang bekerja lebih kuat. Saya putuskan untuk menghampirinya, tampak dengan tubuh bergetar ia menahan badannya agar tetap berdiri seimbang. Ketika saya tanya ia mau kemana, ia hanya jawab "Saya mau nyebrang" ia terdiam kemudian melanjutkan lagi "Tapi gak bisa". Tanpa pikir panjang saya menawarkan diri untuk membantunya menyebrang. Tangannya memegang lengan saya, perlahan akhirnya kami tiba diseberang. Detik berikutnya saya melihatnya meneteskan air mata, saya bingung apa yang terjadi. Ia menangis kemudian menatap saya, "Makasih yah, kalau gak ada kamu, nenek gak bisa pulang karena gak bisa nyebrang" Ucapannya begitu tulus. Saat yang bersamaan saya tersadar, setiap kita bisa membantu orang lain asalkan memiliki rasa peduli. Menyebrang bukan hal yang sulit bagi saya dan menyebrangkan nenek tersebut juga bukan masalah besar bagi saya namun bagi nenek tersebut menyebrang adalah hal yang sangat sulit, ia tak mampu melakukannya seorang diri. Membantu tidak memiliki batasan , nyatanya hal kecil bagi kita namun sangat berharga bagi orang lain yang membutuhkan. Setelah sang nenek telah berhenti  menangis, ia memberikan saya setangkai bunga mawar yang ada ditangannya sebagai tanda terima kasih. Mungkin bunga itu tampak tak berharga namun bagi saya bunga itu sangat bernilai karena ketulusan dari sang nenek yang secara tak sadar mengajarkan saya untuk lebih lagi bersyukur dan lebih peka terhadap mereka yang membutuhkan disekitar. Buatlah pernyataan positif, misalkan : "Aku bersyukur karena aku pintar menyebrang hingga bisa membantu nenek yang kesulitan ketika akan menyebrang".

Sunday, September 1, 2013

Kebetulan buat manusia, Rencana bagi Tuhan

Hari ini aku dibuat tersenyum sama Tuhan.. . . 
Senyum lagi, lagi, dan lagi. . . 
Sempat berpikir gimana caranya aku selesain tulisan ku karena hampir satu bulan gak ada inspirasi yang masuk dalam otak ini. Aku coba sekuat tenaga berpikir apalagi yang mau aku tuangkan, berkali-kali aku coba tetap saja gagal dan tak satu katapun tertulis. Pada akhirnya aku menulis cerita sedikit dengan membuat satu cerita yang menggambarkan tokoh utama gadisnya lelah berharap, namun beberapa kali ia dipertemukan dengan orang yang ia harapkan dan berencana akan ia lupakan. Sebelum tidur aku berdoa sama Tuhan minta tolong supaya aku bisa lanjutkan dan selesaikan tulisanku. Mungkin namaku gak ada di toko buku tapi aku suka menulis dan aku merasa aku adalah penulis bagi diriku sendiri, maka dari itu aku harus menyelesaikan tulisan yang sudah aku mulai. Setelah itu aku pergi tidur dan gak lagi memikirkan apa yang akan aku lakukan esok harinya yaitu hari ini.
Tadi ketika aku pergi ke Gereja aku lupa sejenak dengan nasib tulisanku, setibanya di tempat parkir aku menemukan satu sosok yang memang selalu aku cari, karena sosok itu adalah sumber utama ku dalam tulisan ku yang terhenti saat ini. Disitu aku lihat dia dan buat aku senyum sama diri aku sendiri, sumber inspirasi di depan mata, setelah itu dia pergi dengan temannya, selesai sudah. Aku berjalan masuk melewati beberapa deret kursi yang masih kosong namun sepasang mataku tak menangkap sosok yang ku cari dan memutuskan untuk duduk yang tidak terlalu belakang dengan salah satu sahabatku, selesai doa sebelum memulai ibadah aku kembali terkejut karena sang sumber inspirasi, ia berjalan sambil melempar pandang ke sekeliling sebelum menentukan kursi yang akan menjadi pilihannya, saat itu yang menjadi pilihannya adalah dua kursi kosong yang satu deret dengan tempat ku dan sahabatku telah duduk sebelum mereka. Kejadian yang janggal menurutku, seharusnya ia ada di dalam lebih dulu dibanding dengan aku tapi ini malah sebaliknya. "Kebetulan banget yah" Ujar sahabatku sambil tersenyum kecil. Aku hanya mengangguk pelan dan sekilas membalas senyumnya. Sepanjang jalannya ibadah aku terpaku dengan Tuhan, aku menghabiskan waktu lewat pujian dan doa kepada Sang Penciptaku hingga sekejap melupakan kehadiran sang sumber inspirasi yang berada tak jauh dari ku. Selesai ibadah aku kembali duduk dan berdoa untuk beberapa waktu. Aku mulai tersadar kehilangan sang sumber inspirasi, jelas saja ia telah keluar lebih dulu karena aku masih dalam keadaan doa. Meskipun tak begitu lama melihatnya namun aku mulai mendapatkan kembali inspirasiku untuk tulisanku, dan mulai berpikir tentang cerita sang gadis yang lelah berharap sepertinya telah menemukan harapannya kembali, thanks God. Aku masuk ke lorong parkir dan sedikit berharap akan menemukannya disana, namun sayangnya harapan itu sirna ketika memang tak ku temukan sosoknya. Aku mulai mengenakan jaketku dan lagi-lagi aku mendapatkan kejutan. Yeaaah aku menemukannya untuk ketiga kali, sang sumber inspirasi. Kejanggalan berikutnya dan hampir serupa, ia datang dari arah luar padahal seharusnya ia lebih dulu tiba di tempat parkir sebelum aku dan sahabatku. Beberapa detik aku melihat ke arahnya namun berakhir ketika tatapannya beralih dari temannya ke arah ku. Meskipun rasanya ingin memiliki waktu lebih lama tapi tak ada daya untuk melihatnya lebih lama, namun hari ini sangat cukup menyenangkan untukku.

Ketika kita sebagai manusia berkata bahwa kejadian yang kita alami adalah suatu kebetulan, namun tidak bagi Tuhan. apa yang kita alami memang sudah menjadi rencana-Nya. Dan aku sungguh percaya memang pertemuan itu bukan lah suatu kebetulan namun memang rencana Tuhan, yah setidaknya aku tahu ketika Tuhan mempertemukan aku dengannya itu dapat membukakan inspirasi yang baru bagi tulisanku, meskipun beberapa kali bertemu dengannya membuatku sedikit berharap, berharap untuk mengenalnya lebih lagi. Tak pernah aku mendapatkan judul untuk tulisanku sebelum ending namun hari ini, dalam keadaan bingung untuk melanjutkan tulisan, Tuhan juga seakan memberikan ku judul untuk tulisanku. Aku harap suatu saat nanti tulisan ku dapat dinikmati banyak orang, dan aku akan menjadi penulis bagi banyak orang bukan siriku sendiri, terutama aku ingin menjadi penulis yang dapat selalu menyatakan kemuliaan-Nya dalam hidupku.

Monday, August 12, 2013

Dia selalu punya cara

Apa lagi yang harus aku ucap ketika melihat kebaikan Tuhan yang begitu luar biasa. Tak ada lagi alasan untuk pergi dari-Nya, untuk jauh dari-Nya, untuk meragukan kasih-Nya. Karya tangan yang begitu sempurna, yang membuat hati ini terhanyut dan ada doa disetiap tetesan air mata. 

Aku seorang yang hampir terjatuh karena memiliki beban hati yang hampir mematahkan langkah, berteriak mengadu kepada Dia yang sedang duduk dalam tahta-Nya. Matanya tertuju pada setiap kita yang berseru meminta pertolongan kepada-Nya. Habis sudah tenaga ini untuk berjuang bertahan dalam dunia, hilang sudah harapan yang pernah terucap, patah semangatku untuk tetap melangkah namun Dia selalu punya cara untuk menolong. Ia kirimkan orang-orang terdekat untuk menyambung semangat yang hampir patah, memberikan kembali hati yang penuh dengan pengharapan. Dia bukanlah manusia yang selalu ingkar, Dia adalah Tuhan yang selalu menepati segala janji-Nya. Tak dibiarkan diri yang lemah ini terjatuh hingga dasar jurang, karena ia adalah segalanya. Terima kasih ku untuk-Mu, sang pencipta langit dan bumi. Seperti sebuah lingkaran yang memiliki sudut tak terhingga, begitulah Engkau Tuhan yang selalu punya cara yang tak terbatas untuk menghapus setiap air mata detik ini serta menggantikannya dengan kebahagian yang telah menanti. 
I'm nothing but in You, I'll be everything.

Friday, August 9, 2013

Dear God in the Heaven

Entah apa yang ada dalam hati ini, hanya sesak yang terasa. Semangat yang mulai pudar, langkah yang tak lagi pasti.

Tuhan, Engkaulah penciptaku dan Engkau lebih mengenal hati ini dibanding dengan aku sendiri, bawa aku yang hampir terkulai ini ke dalam rancangan-Mu. Izinkan aku untuk dapat menjadi kebanggaan bagi-Mu ketika aku pulang nanti. Jangan biarkan aku hilang arah, biarlah setiap air mata yang jatuh menjadi doa kepada-Mu, membuat aku lebih lagi dekat serta berserah seutuhnya kedalam kasih-Mu. Saat ini dengan segala kerendahan hati aku berseru kepada Bapaku, berilah umur yang panjang untuk kedua orangtuaku agar aku memiliki banyak waktu untuk membahagiakan mereka, jaga mereka selagi aku tak bersama mereka. Bapa, rasa ini mengganggu, dalam otak dan hati sama sekali tak terlintas tentang apa yang aku inginkan untuk diri ini tapi aku mau menjadi sesuatu yang baik bagi orang yang pernah mengenalku. 

Lewat setiap air mata ini, jadikan aku seperti mata air yang memberi kelegaan bagi semua yang dahaga. 

Dalam setiap kelemahan ku saat ini, jadikan aku seperti pohon yang berdiri kokoh memberikan perlindungan bagi sekitarku

Dengan sisa semangatku jadikan aku seperti lilin kecil yang mampu memberikan seberkas cahaya dalam kegelapan

Aku serahkan seluruh hidupku kepada Engkau yang selalu menjadi penghibur, penyemangat, dan sahabat terbaik. Beri kekuatan untuk dapat berdiri diatas kedua kaki ku, beri kemampuan untuk menghapus setiap air mata dan tetap melangkah.

Satu hal....

Jangan pernah berpaling dari diri yang hina ini, dan aku akan pulang kepangkuan-Mu dengan menjadi kebanggaan hati-Mu. Love You so much... See You in the heaven...