Friday, February 23, 2018

Emas Murni - Keep Fight

Hello readers....
Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang hal yang dekat dengan keseharian kita dan saya yakin gak hanya saya yang mengalami hal ini. Setiap tempat kerja pasti selalu ada saja orang-orang yang membuat kita merasa tak kerasan. 

Cukup banyak tipe orang yang tak jarang membuat hati kesal, seperti :
1   .  Merasa dirinya seakan pemimpin padahal ada distrata yang sama dengan kita
2   . Tak mau diajak kerja sama, namun selalu menjadi patner yang baik ketika dilihat atasan
3   .  Menutup telinga ketika mendapat teguran dari teman kerja
4   .  Menganggap dirinya selalu benar dalam mengerjakan sesuatu
5   .  Hanya mengerjakan bagiannya dan tak mau membantu teman yang lain
6   .  Memanfaatkan anak baru (junior)

Itu hanya beberapa dari sekian banyak, kalau kita pikir baik-baik mungkin secara tak sadar kita termasuk dalam salah satu tipe tadi karena orang cenderung melakukan kesalahan namun secara pribadi ia menganggap bahwa sikapnya adalah benar. Awalnya saya selalu kesal menghadapi orang-orang seperti itu sehingga mengharuskan saya introspeksi diri, mungkin memang ada tindakan saya yang salah atau cara pandang saya yang salah. 

Saya pribadi pernah mengalami hal yang tak mengenakan dalam hal pekerjaan. Beberapa kali saya dipertemukan dengan patner kerja yang baik bahkan kami dapat berbagi cerita juga tawa, hubungan kami cukup dekat namun karena sedikit masalah terjadi dalam pekerjaan membuat semua berubah. Masalah yang ada bukan antara kami namun dalam hal pekerjaan namun itu membuat mereka tiba-tiba menjaga jarak dengan saya. Karena merasa tak ada masalah serius maka saya bersikap seperti biasanya, namun yang saya dapatkan adalah diam. Yang paling terlihat jelas ketika mereka sedang duduk pada satu tempat kemudian saya datang lalu mengambil tempat duduk tak jauh, tiba-tiba secara perlahan mereka bergeser menjauh. Awalnya tidak ada pikiran negatif yang muncul dalam benak saya. Hari-hari berikutnya ketika saya yang lebih dulu duduk di tempat itu maka mereka lebih memilih untuk berdiri agak jauh daripada duduk bersebelahan dengan saya. Kesal pasti, tapi yang paling terasa sedih. Tepat saat itu saya berbicara pada diri sendiri, mereka menjaga jarak seakan saya mempunyai penyakit menular yang mematikan. Ditambah lagi mereka tak ingin berbicara dengan saya, meski mereka butuh bantuan dan hanya saya yang berada dekat situ mereka tetap bergeming. Tak ada orang yang menjadi tempat cerita karena saya berpikir mungkin saya melakukan kesalahan pada mereka. Hari, minggu, hingga bulan terlewati begitu saja tanpa jawaban yang pasti. Jujur saat itu rasa kesal, marah, sedih bercampur jadi satu, ingin rasanya keluar dari tempat kerja itu. Merasa cukup lelah saya berhenti berpikir lalu memutuskan untuk bertanya langsung kepada mereka. Tak peduli respon mereka nantinya, saya mendekat dan bertanya “Apa saya melakukan kesalahan? Kalau ada, apa kesalahan saya?” Di luar dugaaan mereka hanya diam, saya ulangi pertanyaan saya kedua kalinya. Jawaban yang keluar dari mulut mereka adalah “Gak ada”. Lalu kenapa selama ini mereka terkesan menjaga jarak. Saya katakan lagi “Bilang saja kalau saya salah supaya saya tahu dan bisa perbaiki”. Lagi-lagi “Gak ada” jadi pilihan jawaban mereka. Saya katakan lagi “Lalu kenapa selama ini sikap kalian berubah terhadap saya? Kalau ada sikap saya yang salah atau saya memang melakukan kesalahan pada kalian, saya minta maaf”. Hingga kalimat terakhir mereka tetap tak memberikan jawaban apapun. Hanya diam seribu bahasa yang mereka lakukan, bahkan mereka tak mau menatap mata saya dari awal percakapan singkat itu. Setelah itu  saya pergi tanpa adanya jawaban. 
Hari-hari saya mulai berubah, saya lebih memilih banyak diam, tak banyak berinteraksi dengan mereka karena mungkin saya hanya buat mereka semakin menjauh. Kami bicara seperlunya tak ada lagi cerita, apalagi tawa bersama. Secara tak sadar sebuah dinding memisahkan kami meski kami berada di tempat yang sama. Beberapa kali mungkin saya hanya bisa menangisi akhir dari hubungan itu. Kenyamanan mulai hilang dalam tempat kerja, hati yang mulai lelah dengan situasi yang harus setiap hari ditemui, hingga akhirnya saya belajar hal baru. Mungkin ini saatnya saya tak perlu peduli tentang omongan juga sikap orang-orang yang tak punya hak dalam hidup saya. Fokus saya cukup bekerja dengan sebaik-baiknya dan mungkin bisa dikatakan jahat kalau saya menganggap mereka tak ada. Maafkan saya karena hanya itu jalan yang bisa membuat saya tetap bertahan di tempat kerja. Dan terima kasih buat kalian, karena sikap kalian saya bisa mengambil contoh agar saya harus selalu mengoreksi diri sendiri dan tak marah pada orang lain tanpa alasan yang tak pasti. komunikasi selalu menjadi hal penting dalam pekerjaan bahkan dalam setiap hubungan yang kita punya.

pictbycinthyazhang:replika emas yang dibakar
Dari emas murni saya belajar. Untuk menjadi emas murni, pertama emas akan dibakar pada suhu panas yang amat tinggi hingga mencair. Tak hanya sekali dua kali hal itu dilakukan, namun berkali-kali sehingga tak ada sedikitpun debu atau kotoran. Emas akan ditempa berkali-kali tanpa ia tahu akan jadi apa ia nantinya. Mungkin sama dengan kita sebagai manusia yang memang sering kali kita tak mengerti banyak hal disekitar kita. Rasa sakit, marah, kesal, sedih itu adalah api yang akan memurnikan kita suatu hari nanti, entah kapan waktunya kita bisa disebut sebagai emas murni dan logam mulia namun yang saat ini bisa saya lakukan yaitu bertahan dalam segala kondisi dan berserah sepenuhnya kepada Dia yang tahu segala masa lalu serta masa depan saya. Dan berpegang pada sebuah tulisan ‘Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamannya (Amsal 27:17)’. Jelas sudah kita bisa lebih dewasa melalui orang-orang yang dipertemukan dengan kita.

Meskipun kita seakan sudah lelah berusaha dan bertahan, cobalah tetap bertahan sedikit lagi mungkin saja hanya beberapa langkah di depan Tuhan sudah menyediakan hadiah terbaik-Nya untuk kita yang mau tetap bertahan dan tetap memberi respon yang baik dalam setiap situasi menghimpit juga kepada orang-orang yang membuat hati kita sakit. Tujuan saya menulis di sini hanya sekedar berbagi apa yang pernah saya alami dan pelajaran yang bisa dipetik.  Gak mudah tetap menjadi orang baik disituasi yang tak baik, tapi kita sama-sama belajar untuk hal itu. Bukan untuk menggurui, saya pun masih belajar. Semoga bermanfaat bagi kalian pembaca, terima kasih atas waktu kalian yang berharga. Keep fight. God bless you……


Ig: thyazhang

No comments:

Post a Comment