Hello
readers....
Pada
kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang hal yang dekat dengan keseharian
kita dan saya yakin gak hanya saya yang mengalami hal ini. Setiap tempat kerja
pasti selalu ada saja orang-orang yang membuat kita merasa tak kerasan.
Cukup
banyak tipe orang yang tak jarang membuat hati kesal, seperti :
1 . Merasa dirinya seakan pemimpin
padahal ada distrata yang sama dengan kita
2 . Tak mau diajak kerja sama, namun
selalu menjadi patner yang baik ketika dilihat atasan
3 . Menutup telinga ketika mendapat
teguran dari teman kerja
4 . Menganggap dirinya selalu benar
dalam mengerjakan sesuatu
5 . Hanya mengerjakan bagiannya dan tak
mau membantu teman yang lain
6 . Memanfaatkan anak baru (junior)
Itu hanya
beberapa dari sekian banyak, kalau kita pikir baik-baik mungkin secara tak
sadar kita termasuk dalam salah satu tipe tadi karena orang cenderung melakukan
kesalahan namun secara pribadi ia menganggap bahwa sikapnya adalah benar.
Awalnya saya selalu kesal menghadapi orang-orang seperti itu sehingga
mengharuskan saya introspeksi diri, mungkin memang ada tindakan saya yang salah
atau cara pandang saya yang salah.
Saya pribadi pernah mengalami hal yang tak
mengenakan dalam hal pekerjaan. Beberapa kali saya dipertemukan dengan patner
kerja yang baik bahkan kami dapat berbagi cerita juga tawa, hubungan kami cukup
dekat namun karena sedikit masalah terjadi dalam pekerjaan membuat semua
berubah. Masalah yang ada bukan antara kami namun dalam hal pekerjaan namun itu
membuat mereka tiba-tiba menjaga jarak dengan saya. Karena merasa tak ada
masalah serius maka saya bersikap seperti biasanya, namun yang saya dapatkan
adalah diam. Yang paling terlihat jelas ketika mereka sedang duduk pada satu
tempat kemudian saya datang lalu mengambil tempat duduk tak jauh, tiba-tiba
secara perlahan mereka bergeser menjauh. Awalnya tidak ada pikiran negatif yang
muncul dalam benak saya. Hari-hari berikutnya ketika saya yang lebih dulu duduk
di tempat itu maka mereka lebih memilih untuk berdiri agak jauh daripada duduk
bersebelahan dengan saya. Kesal pasti, tapi yang paling terasa sedih. Tepat
saat itu saya berbicara pada diri sendiri, mereka menjaga jarak seakan saya
mempunyai penyakit menular yang mematikan. Ditambah lagi mereka tak ingin
berbicara dengan saya, meski mereka butuh bantuan dan hanya saya yang berada
dekat situ mereka tetap bergeming. Tak ada orang yang menjadi tempat cerita
karena saya berpikir mungkin saya melakukan kesalahan pada mereka. Hari,
minggu, hingga bulan terlewati begitu saja tanpa jawaban yang pasti. Jujur saat
itu rasa kesal, marah, sedih bercampur jadi satu, ingin rasanya keluar dari
tempat kerja itu. Merasa cukup lelah saya berhenti berpikir lalu memutuskan
untuk bertanya langsung kepada mereka. Tak peduli respon mereka nantinya, saya
mendekat dan bertanya “Apa saya melakukan kesalahan? Kalau ada, apa kesalahan
saya?” Di luar dugaaan mereka hanya diam, saya ulangi pertanyaan saya kedua
kalinya. Jawaban yang keluar dari mulut mereka adalah “Gak ada”. Lalu kenapa
selama ini mereka terkesan menjaga jarak. Saya katakan lagi “Bilang saja kalau
saya salah supaya saya tahu dan bisa perbaiki”. Lagi-lagi “Gak ada” jadi
pilihan jawaban mereka. Saya katakan lagi “Lalu kenapa selama ini sikap kalian
berubah terhadap saya? Kalau ada sikap saya yang salah atau saya memang
melakukan kesalahan pada kalian, saya minta maaf”. Hingga kalimat terakhir
mereka tetap tak memberikan jawaban apapun. Hanya diam seribu bahasa yang
mereka lakukan, bahkan mereka tak mau menatap mata saya dari awal percakapan
singkat itu. Setelah itu saya pergi tanpa
adanya jawaban.
Hari-hari saya mulai berubah, saya lebih memilih banyak diam,
tak banyak berinteraksi dengan mereka karena mungkin saya hanya buat mereka
semakin menjauh. Kami bicara seperlunya tak ada lagi cerita, apalagi tawa
bersama. Secara tak sadar sebuah dinding memisahkan kami meski kami berada di
tempat yang sama. Beberapa kali mungkin saya hanya bisa menangisi akhir dari
hubungan itu. Kenyamanan mulai hilang dalam tempat kerja, hati yang mulai lelah
dengan situasi yang harus setiap hari ditemui, hingga akhirnya saya belajar hal
baru. Mungkin ini saatnya saya tak perlu peduli tentang omongan juga sikap
orang-orang yang tak punya hak dalam hidup saya. Fokus saya cukup bekerja
dengan sebaik-baiknya dan mungkin bisa dikatakan jahat kalau saya menganggap
mereka tak ada. Maafkan saya karena hanya itu jalan yang bisa membuat saya
tetap bertahan di tempat kerja. Dan terima kasih buat kalian, karena sikap
kalian saya bisa mengambil contoh agar saya harus selalu mengoreksi diri
sendiri dan tak marah pada orang lain tanpa alasan yang tak pasti. komunikasi
selalu menjadi hal penting dalam pekerjaan bahkan dalam setiap hubungan yang
kita punya.
 |
| pictbycinthyazhang:replika emas yang dibakar |
Dari emas
murni saya belajar. Untuk menjadi emas murni, pertama emas akan dibakar pada
suhu panas yang amat tinggi hingga mencair. Tak hanya sekali dua kali hal itu
dilakukan, namun berkali-kali sehingga tak ada sedikitpun debu atau kotoran.
Emas akan ditempa berkali-kali tanpa ia tahu akan jadi apa ia nantinya. Mungkin
sama dengan kita sebagai manusia yang memang sering kali kita tak mengerti
banyak hal disekitar kita. Rasa sakit, marah, kesal, sedih itu adalah api yang
akan memurnikan kita suatu hari nanti, entah kapan waktunya kita bisa disebut
sebagai emas murni dan logam mulia namun yang saat ini bisa saya lakukan yaitu
bertahan dalam segala kondisi dan berserah sepenuhnya kepada Dia yang tahu
segala masa lalu serta masa depan saya. Dan berpegang pada sebuah tulisan ‘Besi
menajamkan besi, orang menajamkan sesamannya (Amsal 27:17)’. Jelas sudah kita
bisa lebih dewasa melalui orang-orang yang dipertemukan dengan kita.
Meskipun
kita seakan sudah lelah berusaha dan bertahan, cobalah tetap bertahan sedikit
lagi mungkin saja hanya beberapa langkah di depan Tuhan sudah menyediakan
hadiah terbaik-Nya untuk kita yang mau tetap bertahan dan tetap memberi respon
yang baik dalam setiap situasi menghimpit juga kepada orang-orang yang membuat
hati kita sakit. Tujuan saya menulis di sini hanya sekedar berbagi apa yang pernah
saya alami dan pelajaran yang bisa dipetik.
Gak mudah tetap menjadi orang baik disituasi yang tak baik, tapi kita
sama-sama belajar untuk hal itu. Bukan untuk menggurui, saya pun masih belajar.
Semoga bermanfaat bagi kalian pembaca, terima kasih atas waktu kalian yang
berharga. Keep fight. God bless you……
Ig:
thyazhang
No comments:
Post a Comment