Thursday, March 6, 2014

Belajar gak melangkah mundur

Suatu hari Plato meminta muridnya untuk memetik bunga yang paling cantik disebuah kebun tapi dengan catatan ia tidak boleh mundur walaupun selangkah.

Pergilah sang murid, setibanya dikebun ia melihat sangat banyak bunga yang cantik, ketika ia memegang satu bunga untuk dipetik ia berpikir bahwa akan ada bunga yang lebih cantik didepan, dan ia memutuskan untuk meninggalkan bunga yang ada didepan nya. Ia terus berjalan dan menelusuri jalan dengan hamparan bunga cantik tapi ia hanya sekedar melihat karena dipikirannya pasti akan ada bunga yang lebih cantik didepan, hingga ia tiba diujung kebun dan tidak setangkai bunga pun ada disitu. Ia merasa kecewa, kemudian pulang dengan tangan hampa...

'guru, aku pulang dengan tangan kosong' ujarnya kepada Plato. 'kenapa? Apa yg terjadi?' tanya gurunya
'aku terlalu terlena melihat bunga-bunga yang cantik, pikiran ku sangat ingin mendapat yang sempurna, namun ternyata malah sia2 dan aku tidak mendapatkan apa-apa'

Plato memberikan kesempatan kedua, 'sekarang pergilah kehutan, tebang satu pohon yang kamu anggap paling kokoh, dengan catatan yang sama tidak boleh mundur selangkahpun'

Pergilah muridnya segera, dan tak lama ia kembali dengan mmbawa sebatang pohon dipundaknya.
'bagaimana sekarang? Apa itu yg paling kokoh dihutan?'
jawabnya, 'tidak guru, masih banyak pohon yang lain tapi untuk ku ini adalah yang paling kokoh, aku tidak mau kecewa untuk yang kedua kali. pulang dengan tangan hampa'


kadang sadar tidak sadar, kita sering ingin yang paling sempurna tapi ternyata? we've got nothing.,,,.
PIKIRAN menawarkan kesempurnaan untuk kita miliki, tapi realitanya DUNIA menawarkan kita untuk menjadikan sesuatu yang tidak sempurna menjadi SEMPURNA untuk diri kita sendiri

want to see smile in the end of time

Gak tau kenapa belakangan ini ada yang aneh sama diri sendiri. Bukan masalah sensitif atau negatif thingking tapi aku ngerasa gak bisa berdiri di satu tempat dengan tegas. Kosong yang terasa.
Hummm liat orang-orang sekitar buat aku ngerasa canggung buat gabung. Takut ganggu, May be. . . 
Entah apa yang sebenernya aku jalanin, bener-bener buat aku bingung. Kadang aku ngerasa tertekan, mau bebas, mau teriak, mau menjerit lewat tangis, tapi buat apa? It's in vain!!!
Takut buat bicara, takut dalam bertindak, takut dalam ambil keputusan. None support.
Harus tanya siapa? Mungkin jawabannya yah tanya diri sendiri, kenapa semua bisa kayak gini. Share sama orang pun percuma, gak akan ada yang ngerti, karena mereka bukan di posisi aku. Sendiri yang aku rasain, seneng sih waktu liat temen-temen kumpul sekedar share or joke tapi terkadang muncul pikiran jenuh dan yang pada akhirnya buat aku berfikir buat siap siaga ketika mereka, temen-temen yang aku punya pergi ninggalin aku buat temen yang baru. Gila, bisa gila kalo aku berfikir kayak gitu, tapi itu kenyataan. Aku bukan seseorang yang dilingkupi dengan segala sesuatu yang berlebih, aku cuma seseorang yang penuh kekurangan. Makanya aku gak mau menuntut pada siapa pun buat suka, peduli, dan sayang sama aku.
Bodohnya aku, selalu aja mikir yang ternyata gak penting. Kehilangan temen-temen? Yah pastilah, cepet atau lambat yah pasti akan sampai waktunya buat bilang kata perpisahan. Tapi itu yang kadang buat aku takut., ketika aku udah mulai tergantung sama seseorang, aku takut kehilangan dia bahkan aku ngerasa iri kalo ada yang dideket dia. Yah balik lagi rasa takut kehilangan yang luar biasa besar. Tapi buat hal kecil aku malah gak bersyukur sama sang Pencipta. Aku punya keluarga yang sayang sama aku, meski terkadang sikap mereka seakan menekan aku tapi sesungguhnya itu adalah hal terbaik buat aku (menurut mereka) Yah emang gak ada salah kok suma aku nya aja yang terlalu berlebih menanggapi sikap mereka. Temen-temen yang sebenernya peduli bahkan sangat sayang sama aku, gak pernah aku bersyukur kepada Nya untuk kehadiran mereka semua. Justru aku fokus sama orang-orang yang gak suka sama aku. Heiii ini dunia, dunia bukan kejam. Dunia adalah netral gak pernah memihak, ada plus ada minus itu yang disediakan dunia dan aku lebih melihat ke minus bukan plus, it's so success make me down n fallen face down. Tapi saat ini aku mau bersyukur buat orang tua, keluarga besar, temen-temen, dan orang-orang yang pernah ada dalam hidup aku. Mereka adalah orang-orang special yang sangat berpengaruh dalam waktu aku ketika masih ada di dunia fana ini. Terima kasih buat semua cerita, waktu, pengalaman, semua yang udah kalian kasih buat aku. Terima kasih buat saran, teguran, perhatian, sayang nya yang luar biasa.

Mungkin aku mau coba buat putar sedikit rotasi waktuku, meski aku tahu gak akan pernah bisa terulang yang udah lewat tapi setidaknya aku gak mau menyesal untuk yang kesekian kalinya. Sekarang yang aku mau, berubah, kasih hidup aku buat Sang Pencipta terserah apa yang mau Ia kerjakan dalam hidup aku. 
Aku gak suka orang yang gak konsisten dan munafik, tapi saat ini jujur aku akui mungkin aku gak konsisten dan munafik tapi aku mau suatu saat ketika aku udah gak berdiri di tempat ini, semua orang bisa tersenyum karena aku dan ketika waktu ku habis aku mau mereka yang mengenal aku tersenyum ketika mendengar namaku disebut.

Once more

Buat kesekian kali nya aku bisa belajar dalam perih....
awal yag indah tapi harus diakhiri perih, yah itu udah jadi hukum alam. Sama hal nya dengan statement "ada pertemuan pasti ada perpisahan" "Ada awal pasti ada akhir"
Mungkin itu yang sekarang aku rasa, sakit harus ngelepas orang-orang sekitar yang aku sayang. Kenal mereka bukan dalam satu kebetulan, yakin semua memang  udah jadi rencana Sang pencipta, tapi untuk berpisahnya aku agak keberatan.

Dari mereka:
aku belajar kejamnya hidup
aku belajar tersenyum dalam tangis
aku belajar jadi seseorang yang tegar
aku belajar gak mudah putus asa
aku belajar menahan air mata
bahkan dari mereka aku belajar tentang benci....
benci dengan waktu yang harus maksa aku buat lepasin mereka semua...
karena mereka lah orang-orang yang selalu ada meski kadang tak terlihat.
support and care mereka yang buat aku bisa bertahan menghadapi semua dalam waktu....

gak cuma belajar bertahan hidup disemak-semak dunia, tapi mereka juga banyak ajar aku tentang hal yang gak baik. rokok, alkohol, musik, dunia malam.... semua aku alami..
intinya mereka bukan berasal dari tempat yang suci, mereka adalah orang-orang yang hidup dalam dunia fana, mungkin bagi orang lain yang melihat, mereka di judge rusak tapi sedikitpun mereka gak pernah buat aku rusak.
itu salah satu alasan kenapa aku semakin sayang dan gak mau lepas mereka.

Mawar Putih dari Nenek

Setiap orang pasti ingin mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik. Rasa tak pernah puas selalu mengikuti jiwa seseorang. Satu hal yang sering kali terlupa, kebanyakan dari kita selalu melihat keatas, melihat mereka yang memiliki materi lebih banyak dari kita hingga buat rasa haus akan materi semakin kuat. Di sisi lain, pernahkah kita coba melihat mereka yang ada di bawah. Mereka yang memiliki materi jauh lebih sedikit bahkan yang juga bisa dikatakan tak memiliki apa-apa? Lihat mereka, coba rasakan apa yang mereka rasakan dengan hati supaya kita mengerti arti hidup yang sesungguhnya dan bersyukur dalam setiap keadaan. Dan yang menggelitik, sering kali muncul pikiran kalau kita gak punya banyak materi lalu gimana mau bantu orang lain yang kesusahan? Kalau gaji aja pas-pasan, gimana mau memberi? Kalau lagi galau gara-gara masalah hidup, gimana mau hibur orang lain?
HEI!!!!!! Wake Up Guys!!!!!!
Bukan bersikap munafik tapi saya sendiri pernah punya pikiran seperti itu, dan mulai tersadar ketika banyak hal yang saya sendiri alami. Satu kali saya menyeberang jalan yang padat dengan kendaraan, baru saja tiba diseberang, saya dikejutkan dengan kehadiran seorang nenek yang menatap kearah saya. Tangan kanannya memegang seikat bunga mawar putih. Ketika otak yang bekerja pasti saya akan meninggalkannya dengan alasan tidak mengenalnya dan untuk apa toh gak ada untung, tapi hari itu hati yang bekerja lebih kuat. Saya putuskan untuk menghampirinya, tampak dengan tubuh bergetar ia menahan badannya agar tetap berdiri seimbang. Ketika saya tanya ia mau kemana, ia hanya jawab "Saya mau nyebrang" ia terdiam kemudian melanjutkan lagi "Tapi gak bisa". Tanpa pikir panjang saya menawarkan diri untuk membantunya menyebrang. Tangannya memegang lengan saya, perlahan akhirnya kami tiba diseberang. Detik berikutnya saya melihatnya meneteskan air mata, saya bingung apa yang terjadi. Ia menangis kemudian menatap saya, "Makasih yah, kalau gak ada kamu, nenek gak bisa pulang karena gak bisa nyebrang" Ucapannya begitu tulus. Saat yang bersamaan saya tersadar, setiap kita bisa membantu orang lain asalkan memiliki rasa peduli. Menyebrang bukan hal yang sulit bagi saya dan menyebrangkan nenek tersebut juga bukan masalah besar bagi saya namun bagi nenek tersebut menyebrang adalah hal yang sangat sulit, ia tak mampu melakukannya seorang diri. Membantu tidak memiliki batasan , nyatanya hal kecil bagi kita namun sangat berharga bagi orang lain yang membutuhkan. Setelah sang nenek telah berhenti  menangis, ia memberikan saya setangkai bunga mawar yang ada ditangannya sebagai tanda terima kasih. Mungkin bunga itu tampak tak berharga namun bagi saya bunga itu sangat bernilai karena ketulusan dari sang nenek yang secara tak sadar mengajarkan saya untuk lebih lagi bersyukur dan lebih peka terhadap mereka yang membutuhkan disekitar. Buatlah pernyataan positif, misalkan : "Aku bersyukur karena aku pintar menyebrang hingga bisa membantu nenek yang kesulitan ketika akan menyebrang".