Aku ngerasa bosen sama dunia aku yang sekarang, tapi Tuhan buka mata aku. Ternyata masih banyak hal yang bisa buat aku ngerasa seneng.
Hummm tadi aku pergi hang out sama temen-temen di salah satu tempat nongkrong yang lumayan rame, disitu aku liat ada beberapa anak kecil yang bertingkah selayaknya tukang parkir handal. Setiap ada yang keluar, mereka dengan lincah memberi aba-aba dengan gaya ala tukang parkir kebanyakan. Uang yang ditterima mereka memang ga seberapa hanya selembar uang kertas Rp 2.000- tapi mereka dengan adil membagi hasil yang mereka dapat. Aku suka melihat tingkah mereka. Hummm ada lagi, waktu salah satu dari mereka datang membawa sepiring roti bakar, mereka makan bersama sambil tertawa lepas. Aku mulai tertarik dengan mereka dan aku putuskan untuk ikut dalam percakapan mereka. Sedikit demi sedikit aku bertanya tentang apa yang mereka lakukan itu. Apa itu ulah orang tua mereka tapi ternyata itu mau mereka sendiri buat tambahan uang jajan katanya. Mereka keliatan interest dan aku semakin mau tau tentang mereka.
Shandi, anak cowok yang paling besar ia duduk di bangku kelas 2 SMP yang menjadi kepala bagi 3 temannya yang lain. Ia terlihat bijaksana, meskipun masih kecil tapi aku suka caranya berfikir.
Andre, yang satu ini punya badan yang kecil tapi lincah, senyum nya aku suka. dia sempet bercerita tentang keluarganya. Ia tinggal dengan neneknya sedangkan papanya mengalami gangguan kejiwaan dan hanya duduk diam atau sekedar minta uang kepada nya untuk membeli susu. Sambil bercerita ia tetap asyik mengunyah roti bakarnya, sama sekali gak ada perasaan malu atau benci dari wajah polosnya.
Adam, huummm dia lucu... polos banget... dia bilang sering gak masuk sekolah, aku kaget kenapa jarang. dengan polos sambil garuk-garuk kepala dia bilang, "Terlambat, abis bangunnya kesiangan terus" aku cuma bisa tertawa denger pernyataan yang dia buat
Nanang, nah ini lagi, cowok yang ini terlihat sangat kurus, tapi dia yang paling gesit kalo masalah makanan. dia mau pergi beli batu es ketika dimintai tolong oleh yang punya tempat tersebut, karena itu ia mendapat roti bakar dan berlari membagikan hasil yang ia dapat dengan ketiga temennya.
Tuhan, malam ini aku bisa tertawa melepaskan sejenak beban yang ada dipundakku. Melihat tingkah mereka yang polos, saling sayang satu sama lain, saling menjaga, tertawa lepas tanpa beban tampak di wajah mereka, meskipun hidup mereka bisa dikatakan penuh keterbatasan. Aku sebenernya mau berbagi lebih lagi dengan mereka tapi aku cuma bisa memberi mereka sedikit. Itu hal kecil buat aku, gak ada arti memberi mereka dengan nominal seperti tadi, tapi ternyata buat mereka itu sangat berarti, sampai mereka datang kembali kepadaku hanya sekedar menanyakan namaku dan memintaku datang kerumah mereka. Tuhan nama-Mu dipermuliakan. Pekerjaan tangan-Mu sungguh luar biasa dalam hidup ku. Saat ini aku sangat bersyukur atas apa yang aku alami. Sungguh, Thanks God.....
Terima kasih ku untuk para temen-temen kecilku, terima kasih atas senyum dan support agar aku bisa tetap bertahan.
Terima kasih Andre. . .
Terima kasih Shandi. . .
Terima kasih Adam. . .
Terima kasih Nanang. . .
Hummm tadi aku pergi hang out sama temen-temen di salah satu tempat nongkrong yang lumayan rame, disitu aku liat ada beberapa anak kecil yang bertingkah selayaknya tukang parkir handal. Setiap ada yang keluar, mereka dengan lincah memberi aba-aba dengan gaya ala tukang parkir kebanyakan. Uang yang ditterima mereka memang ga seberapa hanya selembar uang kertas Rp 2.000- tapi mereka dengan adil membagi hasil yang mereka dapat. Aku suka melihat tingkah mereka. Hummm ada lagi, waktu salah satu dari mereka datang membawa sepiring roti bakar, mereka makan bersama sambil tertawa lepas. Aku mulai tertarik dengan mereka dan aku putuskan untuk ikut dalam percakapan mereka. Sedikit demi sedikit aku bertanya tentang apa yang mereka lakukan itu. Apa itu ulah orang tua mereka tapi ternyata itu mau mereka sendiri buat tambahan uang jajan katanya. Mereka keliatan interest dan aku semakin mau tau tentang mereka.
Shandi, anak cowok yang paling besar ia duduk di bangku kelas 2 SMP yang menjadi kepala bagi 3 temannya yang lain. Ia terlihat bijaksana, meskipun masih kecil tapi aku suka caranya berfikir.
Andre, yang satu ini punya badan yang kecil tapi lincah, senyum nya aku suka. dia sempet bercerita tentang keluarganya. Ia tinggal dengan neneknya sedangkan papanya mengalami gangguan kejiwaan dan hanya duduk diam atau sekedar minta uang kepada nya untuk membeli susu. Sambil bercerita ia tetap asyik mengunyah roti bakarnya, sama sekali gak ada perasaan malu atau benci dari wajah polosnya.
Adam, huummm dia lucu... polos banget... dia bilang sering gak masuk sekolah, aku kaget kenapa jarang. dengan polos sambil garuk-garuk kepala dia bilang, "Terlambat, abis bangunnya kesiangan terus" aku cuma bisa tertawa denger pernyataan yang dia buat
Nanang, nah ini lagi, cowok yang ini terlihat sangat kurus, tapi dia yang paling gesit kalo masalah makanan. dia mau pergi beli batu es ketika dimintai tolong oleh yang punya tempat tersebut, karena itu ia mendapat roti bakar dan berlari membagikan hasil yang ia dapat dengan ketiga temennya.
Tuhan, malam ini aku bisa tertawa melepaskan sejenak beban yang ada dipundakku. Melihat tingkah mereka yang polos, saling sayang satu sama lain, saling menjaga, tertawa lepas tanpa beban tampak di wajah mereka, meskipun hidup mereka bisa dikatakan penuh keterbatasan. Aku sebenernya mau berbagi lebih lagi dengan mereka tapi aku cuma bisa memberi mereka sedikit. Itu hal kecil buat aku, gak ada arti memberi mereka dengan nominal seperti tadi, tapi ternyata buat mereka itu sangat berarti, sampai mereka datang kembali kepadaku hanya sekedar menanyakan namaku dan memintaku datang kerumah mereka. Tuhan nama-Mu dipermuliakan. Pekerjaan tangan-Mu sungguh luar biasa dalam hidup ku. Saat ini aku sangat bersyukur atas apa yang aku alami. Sungguh, Thanks God.....
Terima kasih ku untuk para temen-temen kecilku, terima kasih atas senyum dan support agar aku bisa tetap bertahan.
Terima kasih Andre. . .
Terima kasih Shandi. . .
Terima kasih Adam. . .
Terima kasih Nanang. . .
No comments:
Post a Comment