Hari ini aku dapet lagi cerita baru yang lucu bahkan mengharukan....
Khotbah dari Pdt.Samuel Irwan bener-bener buka mata ku. Lagi-lagi Tuhan mau ajar aku buat selalu setia meski dalam perkara kecil. Yahhhh dalam posisi terpojok aku selalu aja ngeluh, aku nangis, aku marah sama diri aku sendiri, aku ngerasa salah, aku ngerasa jadi orang bodoh, aku ngerasa sakit, dan disitu aku menjerit ke Sang Pencipta bukannya bersyukur. Haaah, bersyukur? dalam hal apa? Kan posisi terpojok bukan dapet berkat, apa yang harus disyukuri? Ini hal baru yang aku belajar, Bapa, membiarkan dunia buat aku terpojok supaya aku belajar bertahan, belajar menjadi dewasa, belajar sabar, belajar setia. Aku pikir ulang, memang gak semua yang aku alami itu gak enak, buktinya kalo aku perhatikan dalam posisi aku yang terpojok saat ini tetap ada orang-orang yang sayang sama aku dengan tulus. Trus buat apa sih aku mikirin orang yang selalu buat aku terpojok? Kenapa gak aku pikirin aja orang-orang yang mau tulus sayang sama aku. Aku belajar ini dari kisah hidup Pak Samuel yang merasakan terpojok hingga diluar batas kemampuannya. Ia harus menderita sakit akibat virus yang mematikan, ia harus bergumul dengan penyakitnya. Pihak medis pun gak ada yang support dia untuk sembuh, semua menyerah. tapi ketabahan sang istri yang merawatnya dan iman percaya yang mau berserah penuh kepada Bapa akhirnya ia bisa sembuh. Namun sekarang ia gak bisa sembuh seutuhnya, matanya mengalami gangguan sehingga ia gak bisa melihat lebih dari jarak 1 meter, ia juga gak bisa mengeluarkan air mata. Sungguh sulitnya harus tetap setia melayani Tuhan dalam keadaan gak sempurna, akibat matanya yang sakit ia sering dihadapkan dengan maut. Tapi kesetiaannya membuat Bapa tetap menjaga dirinya dari maut.
Mendengar kata-kata yang ia ucapkan buat aku terus menangis, gak tau kenapa saat itu aku bisa nangis? Aku bingung, lantaran aku dalam kondisi terpojok atau karena terharu dengan ceritanya?
Tapi satu hal aku belajar lagi, aku nangis karena aku ngerasa malu. Kondisi aku yang terpojok saat ini bukan apa-apa dibanding dengan kondisi yang dialami Pak Samuel, tapi kenapa aku gak bisa bersyukur sedangkan Pak Samuel bisa tetap mengucap syukur dalam keadaannya. Aku masih sempurna, tak kekurangan satu apa pun tapi aku tetap mengeluh... Ampuni aku Bapa.... Aku sadar, Engkau mau bentuk aku menjadi emas murni, aku adalah milikMu, maka itu aku berserah penuh. Satu statement dari pak Samuel, "Bapa, aku gak minta salib ini diangkat dari pundakku, tapi aku cuma mau minta Engkau berikan aku pundak yang kuat untuk menopang salibMu"
Saat ini aku bersyukur atas proses pendewasaan yang Engkau berikan, aku bersyukur atas kehadiran orang-orang yang tulus sayang sama aku, aku bersyukur atas kondisi aku yang terpojok ini yang buat aku semakin dekat denganMu, aku bersyukur atas kasih sayang yang masih bisa aku rasakan, aku bersyukur....
Mulai detik ini, ingatkan aku agar aku gak mengeluh lagi tapi bersyukur atas semua yang terjadi. Aku mau jadi sesuatu yang berharga. Aku gak mau lagi peduli tentang orang lain yang buat aku jatuh, aku mau jadi diriku sendiri. Aku mau suatu hari diujung waktu ku nanti, ketika aku menutup kedua mataku dalam senyum, orang-orang yang mengenal aku akan ingat namaku dan mengenang tentang aku.
Terima kasih yang special untuk Bapa yang buat aku mengerti indahnya hidup denganMu....
Terima kasih untuk Pak Samuel yang udah buat aku punya kekuatan baru....
Terima kasih untuk kedua orangtua dan adikku yang selalu berdiri disampingku....
Terima kasih untuk temen-temen yang selalu support dan sayang sama aku....
Terima kasih untuk orang-orang yang pernah ada dalam hidup aku, dari kalian semua aku belajar, kalian lah yang punya pengaruh besar dalam setiap waktu ku.....
Love you all
No comments:
Post a Comment