Saturday, March 30, 2013

Let's Move On Baby

ini lah yang namanya EGO. . .
Uhhh rasanya kalo udah berurusan dengan yang sikap Ego kepala mau pecah, hati panas, seluruh tubuh terasa dingin bahkan ingin rasanya teriak sekencang mungkin, pada akhirnya apa aja nekad dilakukan demi memuaskan sang ego. Beberapa kali saya berpikir kenapa sih orang lain mudah untuk minta kita begini dan begitu, meskipun hal tersebut sulit bagi kita. Yah satu-satunya alasan karena rasa egois yang tinggi. Setiap manusia dilahirkan dengan EGO nya masing-masing tinggal kembali lagi ke individunya, keputusan apa yang diambil, Mengendalikan ego? atau sebaliknya Dikendalikan ego? Faktanya orang-orang banyak yang lebih mudah dikendalikan ego dari pada harus mengendalikannya, makanya tak heran kalo masih banyak orang yang ribut karena hal kecil. ketika seseorang meminta kepada orang lain untuk melakukan sesuatu namun belum atau tidak dapat dilakukan maka orang pertama akan marah tanpa mau mendengarkan alasan orang kedua. Orang pertama bukan tidak mengerti posisi orang kedua yang mengakibatkan ia tidak dapat melakukan hal yang diminta namun lebih dikarenakan rasa egois yang dimiliki oleh orang pertama. Ia tidak ingin mendengar alasan apapun dari orang kedua dan ia takut merasa salah makanya respon yang akan ia berikan adalah rasa marah kepada orang kedua, begitu juga dengan orang kedua jika saja terpancing dengan rasa ego yang tinggi maka ia akan membalas kemarahan orang pertama bahkan dengan cara apapun ia akan membela diri habis-habisan. Saat itulah muncul pertengkaran yang ditutup dengan permusuhan. Lagi-lagi hanya karena kita dikendalikan oleh rasa ego, tidak ada satu pihak pun yang berniat untuk meminta maaf. Apa jadinya dunia ini kalo semua orang menjaga baik-baik rasa ego serta gensi di singgasana tertinggi, habislah ruang untuk perdamaian yang ada tinggal permusuhan yang di warnai dengan berbagai aksi balas dendam. Tidak salah seseorang memiliki rasa ego namun alangkah baiknya jika kita dapat mengendalikan ego bukan sebaliknya. Jangan berdiam diri dalam rasa ego yang tinggi, keluar dari area nyaman kita untuk mengerti bagaimana sebaiknya rasa ego dipakai. Seperti ada pernyataan yang mengatakan "MENGALAH bukan berarti KALAH" atau "MENGALAH untuk MENANG". Lepaskan diri dari EGO yang mengendalikan kita, jangan biarkan ego menguasai seluruh pikiran ketika kita ada dalam lingkaran masalah namun belajarlah dari setiap masalah yang ada karena itu lah yang akan mendewasakan kita. Let's Move On Baby. . .

Tuesday, March 26, 2013

Think Big

Manusia selalu tidak jauh dari dosa, itu hal yang memang kita ketahui bersama. Namun terkadang bagi saya pribadi ketika saya melakukan satu kesalahan maka hal yang akan menggangu pikiran saya adalah "rasa salah", diikuti lagi beberapa pertanyaan yang tak kalah mengganggu seperti "kenapa salah sih? Padahal tadi harusnya gak begini?"  sering kali saya ingin membuang kata menyesal dalam hari saya agar saya dapat selalu mensyukuri apa yang telah saya terima namun hal-hal kecil membuat saya mengucapkan kalimat yang berbeda namun dalam artian yang sama yaitu penyesalan bahkan cenderung menyalahkan diri sendiri. Saya sadar, bukan nya statement of proud yang diberikan untuk diri sendiri malah men-judge diri saya sendiri hingga berhasil membuat saya drop. Hilang semangat, sama sekali tak ada gairah untuk melakukan hal lain ketika melakukan satu kesalahan meskipun hanya kesalahan kecil. Tapi malam ini saya belajar dari seorang yang saya panggil dengan sebutan Boksu, ternyata ketika saya melakukan kesalahan dan merasa salah itu adalah emosi yang baik. Hanya saja cara saya untuk menyikapinya yang salah, saya tidak boleh terlalu lama ada dalam rasa salah, bukan untuk membuat drop mental namun saya harus introspeksi diri agar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Lega rasanya mendapatkan satu pelajaran berharga, dan satu ayat menemani saya malam ini dari Matius 11:28 "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" juga seperti yang dikatakan dalam iklan "Big Cola", yang harusnya kita lakukan bukan membawa aliran negatif dalam diri namun "THINK BIG" untuk mengubah segalanya menjadi lebih baik.

Sunday, March 24, 2013

S.A.V.E.O.U.R.H.E.A.R.T

Hari-hari belakangan ini sangat terasa akibat dari sikap EMOSI semata membuat banyak orang hilang kesadaran hingga gelap mata. tak jarang kita melihat di media cetak seorang ayah kandung yang tega memperkosa anaknya yang baru berumur lima tahun, dalam siaran berita televisi juga sering kali tersiar kabar bahwa beberapa pemuda nekad memperkosa seorang teman wanitanya secara bergantian bahkan menyiksa hingga membunuhnya. 'Kasih Ibu sepanjang masa' itu adalah satu pernyataan yang memang benar adanya tapi sekarang ini banyak kasus yang kita saksikan bahwa seorang ibu tega menenggelamkan anaknya sendiri, juga seorang ibu yang tega menaruh racun di dalam makanan anak-anaknya. 

Entah sebenarnya apa yang melatar belakangi semua tindakan kejam itu. semakin hari dunia terlihat semakin kacau dalam perekonomianya, perang saudara terjadi hanya karena rasa tersinggung, pembunuhan dilakukan lantaran merasa iri dan ingin balas dendam. Pada hakikatnya, Sang Pencipta selalu memiliki rencana yang baik bagi semua ciptaan-Nya. Dia menciptakan kita dengan suatu tujuan, Dia membuat kita merasa tidak nyaman agar kita berteriak dan pasrah sepenuhnya dalam tangan-Nya. Yang Ia inginkan agar kita menjadi satu pribadi yang dewasa, dapat bertahan dalam setiap goncangan, dan menikmati hasilnya nanti. Namun banyak dari kita tidak sabar dan tidak tahan dengan semua masalah yang melingkupi kita, jalan pintas lah yang menjadi alternatif pilihan bagi kita. Menyiksa atau Disiksa, Menyakiti atau Disakiti, Membunuh atau Dibunuh. Tidak munafik, kita pasti lebih memilih kata yang bersifat pasif dibanding harus rela menderita tentunya. Saat itu lah hati kita mulai kotor, dipenuhi dengan hal yang negatif. memang benar setelah melakukan hal-hal negatif yang ada dalam kepala pasti kita mendapatkan kepuasan sekejap namun efek berkepanjangan yang akan diterima. Sebut saja kita merasa iri dan akhirnya memutuskan untuk membunuh, untuk saat itu hati akan merasa puas namun setelahnya kita akan berurusan dengan keluarga dari korban, pihak yang berwajib, nama akan menjadi rusak, dan rasa bersalah akan terus menghantui. Apakah hal seperti itu yang membuat hidup kita tenang? Yang sebenarnya itu semua adalah kepuasan pikiran bukan hati. 

Dunia tidak dapat diubah bagaimanapun caranya kalau setiap individu menjadikan EMOSI sebagai bagian dari hidup. Jujur saya pun orang biasa yang tak jauh dari rasa emosi, namun ketika kita dekat dengan Sang Pencipta percayalah, para malaikat akan menjaga setiap kita dari rasa emosi, ketika kita dihadapkan dengan hal-hal yang membuat emosi kita naik level, yakinlah saat itu Tuhan mengajarkan kita untuk dapat mengendalikan emosi bukan sebaliknya. Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang ajaib. Ia mengijinkan persoalan terjadi dalam hari kita agar kita mampu menjadi pribadi yang dewasa dan memiliki sabar yang extra, Ia adalah Tuhan yang tidak pernah terlelap hingga ia tidak akan membiarkan adanya persoalan yang melebihi batas kemampuan kita. Tuhan akan selalu menepati janji-Nya, Ia akan memberikan kita semua yang indah tepat pada waktunya nanti. 

SO, LET'S SAVE OUR HEART 

FOR SHINE FUTURE 

FROM GOD